"WELCOME TO ADV. PUJA'S BLOG"

Total Tayangan Halaman

Translate

Kamis, 25 Oktober 2012

Pendakian Gunung Rinjani

RINJANI

Mendaki Eksotisme Gunung Rinjani


PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa yang bermarkas di New York, menetapkan tahun 2002 sebagai tahun “Ekowisata, Gunung Berapi Internasional, dan Warisan Budaya”. Tema utama yang diusung itu terasa tepat di tengah maraknya kerusakan lingkungan, yang berakibat buruk bagi kehidupan manusia.

Di Indonesia, Presiden Megawati meresponnya dengan Pencanangan Tahun Ekowisata 2002, yang peresmiannya dilaksanakan di Puncak Selo, Kabupaten Boyolali, tepatnya di celah Gunung Merapi-Merbabu. Gerakan nasional ini mencerminkan kepedulian dunia pariwisata terhadap kelestarian lingkungan.
Secara sederhana, ecotourism atau sering disebut ekowisata merupakan sebuah produk pariwisata yang memanfaatkan aset alam dan lingkungan secara arif dan bijaksana. Sehingga kekayaan serta keanekaragaman hayati bisa lestari dan serasi dengan komunitas manusia di sekelilingnya.
Keputusan pemerintah untuk menggalakkan ekowisata di Indonesia adalah sebuah langkah tepat. Hal ini didasari kenyataan bahwa basis kekuatan pariwisata Indonesia sebenarnya terletak pada anugerah kekayaan alam yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Dengan memiliki 129 gunung berapi atau 13% gunung api di dunia, prospek pengembangan ekowisata di Indonesia bisa dibilang cerah. Sayangnya, hanya sedikit kawasan gunung berapi yang dikelola secara ekowisata yang menghasilkan devisa negara. Selebihnya terbengkalai dan rusak parah akibat kesalahan pengelolaan dan penebangan liar.
Salah satu gunung berapi di Indonesia yang terkenal ke seantero dunia adalah Rinjani. Setiap tahun, tercatat ribuan wisatawan asing dan domestik mendaki gunung berketinggian 3.726 m dpl (dari permukaan laut) ini. Tak pelak lagi, Gunung Rinjani menjadi incaran pencinta petualangan alam bebas.
Terletak di sebelah utara tanah Lombok, Nusa Tenggara Barat, Gunung Rinjani merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia. Ketinggian puncaknya hanya terkalahkan oleh Pegunungan Jayawijaya di tanah Papua dan Gunung Kerinci yang berada di tanah Sumatera.
Ada beberapa jalur pendakian yang sering dipakai untuk mendaki Gunung Rinjani. Namun bagi petualang yang pertama kali berkunjung ke Lombok, disarankan memilih jalur Sembalun Lawang. Pos awal pendakian di jalur ini relatif murah dan mudah dijangkau dengan transportasi umum.
Dari gerbang pelabuhan laut Lembar, perjalanan menuju terminal bus di Kota Mataram. Di terminal tersedia kendaraan elf jurusan Mataram-Aikmel. Sekira 1 jam perjalanan, sampailah di kawasan Aikmel. Di sini, para petualang disambut kendaraan elf yang langsung menuju pos pendakian Sembalun Lawang.
Selama menempuh perjalanan, kita melewati hutan tropis ditambah atraksi monyet liar di pinggiran jalan. Areal perkebunan kol, cabai dan bawang terbentang luas. Selain itu, tersaji pemandangan ngarai hijau mempesona yang dihuni suku Sasak tradisional, suku asli Pulau Lombok.
Setiba di pos pendakian Sembalun Lawang, para pendaki wajib mendaftarkan diri. Sebelum keberangkatan, petugas jagawana memberikan pesan agar menjaga kebersihan dan menghormati adat istiadat penduduk setempat. Tak lupa diterangkan pula lokasi mata air yang tersembunyi.
Bagi yang membutuhkan, tersedia jasa guide (pemandu) atau porter (tenaga angkut), yang dilengkapi penyewaan peralatan serta perbekalan standar pendakian gunung. Pengelolaan jasa wisata yang melibatkan suku Sasak ini, menerapkan tarif berbeda bagi wisatawan asing dan wisatawan lokal.
Medan pendakian
Tantangan awal yang mesti ditempuh adalah padang sabana yang luas dan berbukit-bukit. Karakteristik alam ini memberikan pengalaman baru bagi petualang yang biasa mendaki pegunungan di tanah Jawa. Biasanya pegunungan di Jawa lebih banyak menyuguhkan hutan homogen dan heterogen.
Tanah tandus berdebu disertai iklim yang menyengat membuat stamina cepat terkuras. Hanya di beberapa tempat terhampar rumut ilalang yang lebat sebagai makanan lezat bagi lembu-lembu gembala. Di tempat tertentu terdapat pos khusus yang bisa digunakan berkemah dengan mata air dan wc darurat.
Sehabis padang sabana, medan perjalanan terasa semakin berat. Tanjakan terjal dengan jurang menganga mulai hadir di antara rimbunan hutan heterogen. Gunung Rinjani bisa dikatakan aman dari ancaman binatang buas. Burung, monyet yang bergelantungan dan ayam hutan yang kerap dijumpai di hutan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 7 jam, sampailah di pelawangan (punggungan gunung) Sembalun Lawang. Lokasi yang ditumbuhi cemara gunung (Casuarina junghuniana) ini merupakan pos pendakian terakhir sebelum menuju puncak.
Pelawangan Sembalun Lawang terletak persis di lereng penyangga Danau Segara Anakan. Walhasil, sembari istirahat, pendaki bisa sepuasnya menyaksikan keeksotisan danau raksasa yang terbentuk secara vulkanik akibat letusan Gunung Rinjani.
Sayangnya cuaca di ketinggian ini sangat mudah berubah. Serangan kabur dingin bisa datang mendadak menggantikan cuaca panas menyengat. Tak jarang angin badai mampu merobek bahkan menerbangkan tenda. Namun, pesona sunrise dan sunset menjadi momen yang tak terlupakan seumur hidup.
Lantas ada dua pilihan: melanjutkan petualangan menuju puncak atau langsung turun ke Danau Segara Anakan. Medan perjalanan menuju puncak berat dan cukup berbahaya. Padang pasir, kawah, dan jurang yang seolah tanpa dasar, akan memaksa berpacunya adrenalin selama 3-5 jam perjalanan.
Sedangkan medan perjalanan menuju Danau Segara Anakan tak kalah menegangkan. Para pendaki harus lincah menuruni lereng cadas dengan kemiringan berkisar 40-80 derajat. Yang patut diperhatikan ialah resiko reruntuhan batuan yang membahayakan jiwa pendaki.
Danau Segara Anakan
Bagi suku Sasak, Danau Segara Anakan dianggap tempat sakral yang harus dijaga kesuciannya. Danau berwarna hijau dan biru itu, digunakan pula sebagai tempat ziarah dan peribadatan umat Hindu, Islam Wettu Telu (sinkretisme Islam-Hindu) serta kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa.
Maka tak perlu heran, bila mencium asap dupa atau menemukan kembang sesaji di sekitar tepian danau. Selain itu, Suku Sasak sangat menghormati tempat persemayaman Dewi Anjani ini, yang dipercaya sebagai penguasa tertinggi alam gaib Gunung Rinjani ini.
Air danau yang berasa kesat, akibat campuran air tawar dan air belerang ini, diyakini sebagai obat ampuh untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Percaya atau tidak, nyatanya keadaan ini menyebabkan tumbuhnya kearifan budaya lokal untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menghindari eksploitasi sumber daya alam.
Terlepas dari semua itu, para pendaki akan merasa dimanjakan alam. Untuk melemaskan otot yang tegang, kita bisa berendam air panas seharian di beberapa kolam belerang alami. Walaupun dijadikan tontonan puluhan monyet liar yang bertaring tajam.
Yang paling mengasyikan, tentunya membakar ikan di pinggir danau. Ikan mas, mujair dan harper yang berukuran besar berkembang biak dengan pesat di danau ini. Bila kurang ahli memancing atau sedang apes, kita bisa membeli ikan dari pemancing lokal yang sering muncul di musim liburan.
Di seberang danau terlihat gundukan bukit pasir yang sering mengeluarkan asap putih ke angkasa. Orang-orang menyebutnya sebagai Gunung Baru. Tak banyak keterangan mengenai gunung pasir yang masih aktif tersebut.

KARAKTERISTIK GUNUNG RINJANI
Hutan di Gunung Rinjani termasuk hutan jenis heterogen dan homogen pada daerah daerah tertentu. Pada ketinggian 1000 – 2000 mdpl dapat kita temui jenis tumbuh–tumbuhan seperti Beringin (Ficus superb), Garu (Dysoxylum sp), Bayur, dan perkebunan penduduk yang ditanami suyur – sayuran seperti kol, cabai, bawang, juga kentang. Pada ketinggian 2000 – 3000 mdpl
vegetasi yang dominan adalah cemara Gunung (Casuarina junghuniana). Pada ketinggian 3000 mdpl ke atas hanya terdapat jenis rumput–rumputan dan bunga abadi (edelweiss). Salah satu keeksotisan Gunung Rinjani adalah Danau Segara Anak yang terbentuk secara vulkanik akibat letusan Gunung Rinjani. Danau ini terletak di ketinggian 2800 mdpl, kaya akan ikan–ikan maupun flora fauna lain. Kekayaan danau ini sering dieksploitasi oleh penduduk setempat dengan mengambil ikan-ikannya. Namun satu yang perlu dicatat disini adalah adanya kearifan lokal penduduk setempat sehingga eksploitasi tidak sampai menimbulkan kerusakan lingkungan. Ikan-ikan yang banyak terdapat di danau ini adalah ikan mas, mujair dan ikan harper. Pada bulan Februari 2005 tim pendaki dari Astacala berhasil menombak ikan mas seberat 3,5 kg. Danau Segara Anak dipercaya oleh masyarakat sekitar mempunyai tuah yang dapat menyembuhkan penyakit, juga untuk pemujaan mendapatkan benda – benda yang sakti. Di dekat Danau Segara Anak terdapat gunung kecil yang disebut Gunung Baru. Jarang orang yang bisa ke puncak Gunung Baru tersebut walaupun menurut informasi sudah ada jalur menuju kesana. Bisa jadi hal ini disebabkan karena Gunung Baru tersebut masih aktif dan mengeluarkan gas. Gunung Rinjani bisa dikatakan aman dari ancaman binatang buas. Burung, monyet yang bergelantungan dan ayam hutan yang kerap dijumpai di hutan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 7 jam, sampailah di pelawangan (punggungan gunung) Sembalun Lawang. Lokasi yang ditumbuhi cemara gunung (Casuarina junghuniana) ini merupakan pos pendakian terakhir sebelum menuju puncak. Pelawangan Sembalun Lawang terletak persis di lereng penyangga Danau Segara Anakan. Walhasil, sembari istirahat, pendaki bisa sepuasnya menyaksikan keeksotisan danau raksasa yang terbentuk secara vulkanik akibat letusan Gunung Rinjani. Sayangnya cuaca di ketinggian ini sangat mudah berubah. Serangan kabur dingin bisa datang mendadak menggantikan cuaca panas menyengat. Tak jarang angin badai mampu merobek bahkan menerbangkan tenda. Namun, pesona sunrise dan sunset menjadi momen yang tak terlupakan seumur hidup.
Para pendaki harus lincah memanjat lereng cadas dengan kemiringan berkisar 40-80 derajat. Yang patut diperhatikan ialah resiko reruntuhan batuan yang membahayakan jiwa pendaki.
Para pendaki harus lincah memanjat lereng cadas dengan kemiringan berkisar 40-80 derajat. Yang patut diperhatikan ialah resiko reruntuhan batuan yang membahayakan jiwa pendaki.
DAILY WEATHER FORECAST - MT. RINJANI LOMBOK ISLAND INDONESIA
LocationTemperature
Rinjani Summit (3726M)
5 - 8°C from 02:00-08:00AM
Segara Anak Lake (2000M)
Daytime: 14 - 18°C, Night: 11 - 14°C
Sembalun Crater Rim 2 (2639M)
Daytime: 15 - 20°C, Night: 10 - 12°C
Senaru Crater Rim 1 (2641M)
Daytime: 15 - 22°C, Night: 12 - 15°C
Pos 3 Pada Balong - Sembalun (1800M)
Daytime: 20 - 24°C, Night: 15 - 20°C
Pos 2 Tengengean - Sembalun (1500M)
Daytime: 22 - 26°C, Night: 18 - 22°C
Pos 3 Mondokan Lokak - Senaru (2000M)
Daytime: 20 - 24°C, Night: 15 - 20°C
Pos 2 Montong Satas - Senaru (1500M)
Daytime: 22 - 26°C, Night: 18 - 20°C
Overall Condition
From Pos 2 - Pos 3 Sembalun (East)
Mist from 12:00 - 18:00 PM
From Pos 2 - Pos 3 Senaru (North)
Light mist from 12:00 - 18:00 PM
Overall Visibility
100 - 200M
After 2000M - Up
Weather is clear but windy
From Sembalun Crater Rim to 2900M
Windy
After 3000M - Up to the Summit
Clear

3 Jalur Resmi Mendaki Gunung Rinjani

10/06/2012
Oleh: Aro

Baru-baru ini terdengar kabar santer tentang rencana pembuatan jalur baru yang di gulirkan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok. Tujuan mereka mengupayakan hal ini sebagai alternative jalur medan yang lebih pendek sehingga para pengunjung lebih cepat sampai menuju puncak Rinjani.
Terlepas dari apa yang tengah Pemerintah Kabupaten Lombok upayakan dalam membuat jalur alternative, saat ini untuk menuju puncak Rinjani dapat ditempuh lewat 3 pintu masuk, yaitu Senaru, Sembalun dan Torean.
Jalur Sembalun 
Mataram – Sembalun (± 4-5 jam kendaraan umum)
Sembalun Lawang – Puncak Gunung Rinjani (± 7 Jam Jalan Kaki)
Sembalun Lawang – Danau Segara Anak (± 2-3 Jam Jalan Kaki )
Jalur Senaru
Mataram – Senaru (± 3-4 Jam Kendaraan Umum)
Senaru – Danau Segara Anak (± 7-10 Jam Jalan Kaki)
Danau Segara Anak – Pelawangan Sembalun (4 Jam Jalan Kaki )
Pelawangan Sembalun – Puncak Rinjani (2-3 Jam Jalan Kaki)
Jalur Torean 
Mataram – Torean (± 4-5 Jam Kendaraan Umum)
Torean – Danau Segara Anak (± 8-9 Jam Jalan Kaki)
Ketiganya memiliki keunggulan view masing-masing. Namun di kalangan pendaki banyak yang memilih mendaki gunung Rinjani start dari Sembalun kemudian turun ke Senaru. Sementara jalur Torean sangat jarang di gunakan oleh pendaki. Jalur ini biasa di gunakan oleh para peziarah yang melakukan ritual di Segara Anakan.
Berikut penjelasan detail dari ketiga jalur tersebut.
Jalur Senaru (Pintu Utara)
Di antara ketiga pintu masuk, jalur pendakian Senaru merupakan jalur yang paling ramai. Hal ini di sebabkan banyak dari pengunjung terutama wisatawan asing yang hanya ingin menikmati Segara Anak saja tanpa mereka bersusah payah mencapai puncak Rinjani. Jika dari Senaru untuk mencapai Segara Anak lebih cepat ketimbang lewat Sembalun. Apalagi view keindahan pesona alam Rinjani dapat di saksikan dari Pelawangan Senaru.

Selama mendaki lewat jalur Senaru Anda akan di suguhkan hutan primer, sehingga Anda tidak perlu takut terkena terik matahari seperti di jalur Sembalun. Sepanjang perjalanan Anda akan menemukan 3 shelter yang bisa Anda gunakan untuk tempat istirahat maupun camping area.
Setelah sampai di atas Pelawangan Senaru Anda akan di suguhkan pemandangan super cantik dari Rinjani. Tidak heran view dari tempat ini sering di jadikan gambar di kalender maupun perangko.
Rinjani dari Pelawangan Senaru
Untuk memperoleh informasi mengenai pendakian Gunung Rinjani telah disediakan Pusat Pendakian Terpadu (Rinjani Trek Centre) atas kerjasama Balai Taman Nasional Gunung Rinjani dengan NZAID (New Zealand Asistance International Development)
Dari Danau Segara Anak bila Anda ingin melanjutkan perjalan ke puncak Gunung Rnjani Anda harus menuju ke Pelawangan Sembalun terlebih dahulu yang membutuhkan waktu ± 4 Jam.

2. Jalur Sembalun (Pintu Timur)
Jalur Sembalun merupakan jalur primadonanya pendaki gunung. Di jalur ini rutenya tidak terlalu curam, hanya menyusuri setapak yang menembus 
Sunset di Plawangan Sembalun
3. Jalur Torean (Pintu Tengah)
Sepanjang jalur ini, dari Desa Torean menuju kali Tiu ( batas TNGR ) yang merupakan Pos I pendakian dapat dijumpai ladang, padang pengembalaan, perkebunan dan merupakan kawasan Hutan Produksi. Kemiringan 20 - 45% jarak desa Torean dengan batas TNGR ( Pos I ) ± Km 5,00 Km dengan kemiringan ±10 - 30%.

Goa Susu
Jarak dari Pos III Torean menuju ke Plawangan Torean ± 3,50 Km dengan kemiringan ± 30 - 40%, sepanjang perjalanan kita akan berada dalam apitan 2 buah gunung dan kita juga dapat menikmati aliran sungai ( Kokok ) Putih.
Ada yang menarik jika Anda mendaki gunung lewat jalur ini, yaitu pesona dari Goa Susu.


GAMBAR - GAMBAR DAN FOTO PENDAKIAN RINJANI :






































Gambar itu tadi adalah gambar dari pendakianku yang pertama di Gunung Rinjani 26 Juni - 04 Juli tepatnya saat aku brumur 15 tahun. Aku pergi mendaki rinjani bersama team KOPLAG (Komunitas Pecinta Alam Trenggalek). 

Rinjani adalah gunung yang mempunyai nilai keindahan lebih di banding gunung yang lain di Indinesia. Dan untuk para Petualang sejati harus mencobanya.!!!

Minggu, 06 Mei 2012

Waisak dan Keteladanan Sidharta

Senin, 7 Mei 2012 10:22 wib
Peringatan Hari Waisak 2556 tahun ini menjadi momentum kebangkitan bangsa dari segala keterpurukan yang terus-menerus mewarnai dinamika kehidupan masyarakat kita. Kita patut merenung dan menghayati dengan penuh hikmad pesan-pesan sang Budha yang memberikan semangat hidup bagi kedamaian dunia. Pesan-pesan sang Budha tentu tidak hanya dimaknai sebagai pesan serimonial belaka, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata yang dapat menyentuh denyut nadi seluruh ummat manusia.

Kita semua tahu bahwa setiap tahun pada bulan Waisak, seluruh dunia merayakan tiga peristiwa penting yang terjadi pada manusia agung yang bernama Sidharta Gautama. Ia lahir tahun 623 sebelum Masehi di Taman Lumbini atau Rummindei dan pada tahun 588 sebelum Masehi, Sidharta mencapai keterbangunan nurani secara paripurna, kemudian pada 543 beliau wafat di hutan Sala milik suku Malla, Kusinara.

Tiga peristiwa agung ini merupakan sebuah dinamika kehidupan yang penuh dengan totalitas demi pencapaian besar bagi kemajuan kemanusiaan, peradaban, dan alam semesta. Melalui renungan spiritualitas yang telah dikobarkan Sidharta, kita patut mengarifi kemuliaan hatinya yang mampu meruntuhkan kemewahaan hidup manusia sehingga mencapai titik sempurna.

Perjuangan Sidharta

Kita sadari renungan Sidharta bukanlah suatu pencapaian yang berangkat dari ketakutan atau arogansi ke-akuan, melainkan didasarkan pada penderitaan langsung yang pernah dialaminya ketika berjuang melawan angkara murka, kesombongan, dan kerakusan hidup manusia.

Perjuangan Sidharta dalam memaknai kehidupan dan mengupayakan terciptanya bangunan spiritualitas yang paripurna merupakan perjuangan yang berangkat dari hati nurani dan akal budi sehingga kemuliaan hatinya patut kita teladani. Potret perjuangan Sidharta dalam merekonstruksi peradaban manusia yang mengalami krisis spiritual dan kemanusian, begitu sangat mempesona sehingga menggetarkan hati dan pikiran manusia sekarang ini.

Dalam kontemplasi Sidharta, kebangkitan bukanlah monopoli milik-Nya dan bukan sesuatu yang lahir di luar potensi manusia, melainkan dalam diri manusia itulah terdapat potensi spiritualitas yang paripurna dan luar biasa (buddhata). Oleh karena itu, tugas kita sekarang adalah bagaimana membuka jalan kehidupan manusia pada satu titik kulminasi yang monumental.

Pada momen yang berbahagia ini, kita semua patut meneladani pendiri agama Budha, yakni Sidharta Gautama yang telah mampu mewariskan nilai-nilai moral dan akal budi bagi seluruh ummat Budha di Indonesia. Warisan monumental Sidharta telah meruntuhkan aroma kemewahan menuju kesederhanaan yang terbingkai melalui kematangan dalam bermeditasi demi meraih ketenangan dan kesempurnaan hidup (nirwana).

Bagi ummat Budha sendiri, perayaan Waisak menjadi momentum kebangkitan dari krisis spiritual menuju kematangan pribadi yang paripurna. Penderitaan sang Budha ketika meninggalkan rumah untuk hidup dan belajar bersama para pertapa Hindu, sejatinya merupakan suatu petualangan spiritual yang cukup menakjubkan.

Setelah enam tahun, konon katanya, ia mencapai nirwana, keadaan gembira yang langka ternyata telah mampu melampaui penderitaan dan karma. Sesudah itu, ajarannya dianggap menyimpang dari aliran utama Hindu pada masa itu, sehingga ia pun mengembara ke sebelah selatan India guna mencari prinsip-prinsip spiritual yang dapat membentuk fondasi Budhisme. Tempat itu kemudian dikenal dengan sebutan Bodgaya, yang dijadikan tempat bersemedi dan bertapa selama beberapa tahun guna mencari ilham sejati yang diharapkan mampu memberikan tuntunan hidup tentang kelepasan hidup samsara dengan mudah.

Pada akhirnya, di bawah pohon pippala (arak), ia memperoleh apa yang dicita-citakan, yakni ajaran tentang sebab akibat penderitaan (samsara) dan cara-cara mendapatkan kelepasan yang tersimpul dalam pandangan filosofis. Ketika itulah, sang Budha menyampaikan khotbah pertamanya di kotan Benares (di tepi sungai Gangga) kepada masyarakat. Tidak heran bila ummat Budha mempercayai empat kota suci, yakni Kapitalavastu, Bodhgaya, Benares, Kusinagara.
 
Sikap Kritis dan Toleran

Pada momen bersejarah nan agung ini, ummat Budha di seluruh dunia diharapkan mampu meneladani pesan-pesan damai dan toleran sang Budha. Selain itu, kita bisa mengambil hikmah dari jalinan kata-sabda sang Budha yang tidak hanya berisi tentang pesan-pesan kebajikan dan kemuliaan hati, melainkan juga mengandung sikap kritis dan toleran terhadap keyakinan agama lain.

Tidak heran bila Gunaseela Vitanage (2000) dalam “Sikap Budha terhadap Agama Lain”, menguraikan beberapa fakta yang lahir dari jalinan kata-sabda sang Budha yang sangat toleran dalam bersikap dan memandang agama lain. Sikap yang ditunjukkan sang Budha mencerminkan suatu kearifan dan penghargaan sedalam-dalamnya terhadap agama lain.
Pertama, tujuan dan misi Budha di dunia bukan untuk mengumpulkan pengikut dalam jumlah besar atau sekedar meminta mereka mengubah label-label agama, melainkan untuk mengajarkan manusia tentang kebajikan, kemuliaan hati, akal budi, kepercayaan agama, filsafat, dan metode untuk meningkatkan “segala sesuatu yang berkaitan dengan tindakan korupsi dan ketegangan politik yang tidak sehat”.

Kedua, bahwa ia tidak menginginkan penganut agama lain berharap menjadi muridnya. Bahkan, sang Budha mengakui bahwa bahwa nilai-nilai kepercayaan, baik dalam ukuran besar atau kecil, juga terdapat dalam agama lain.

Ketiga, bahwa metode pelatihan dari sang Budha bersifat edukatif dan mencerahkan. Itulah sebabnya, ia tidak berkaitan dengan indoktrinasi dengan serangkaian ajaran dan dogma misterius yang dianggap tidak memiliki makna nyata.

Keempat, bahwa sang Budha tidak pernah mengklaim dirinya sebagai penyelamat dalam pengertian orang yang memikul beban dosa orang lain. Akan tetapi, ia penyelamat dalam arti orang yang mengajarkan kebenaran yang menyelamatkan dan kebenaran yang membimbing orang menuju kelepasan terakhir dari penderitaan (vimutti).

Maka, seiring dengan momentum Waisak ini, ummat Budha Indonesia seharusnya memperkuat sikap toleran terhadap agama lain dan diharapkan ikut terlibat dalam memajukan semangat persatuan dan kesatuan bangsa melalui penghargaan terhadap keniscayaan pluralitas, kemajemukan, multikulturalisme, dan lain sebagainya.

Rabu, 28 Maret 2012

Primadona Pendaki Gunung di Indonesia

Primadona Pendaki Gunung di Indonesia (Jawa-Bali-Lombok)

1. Gunung Tambora
Gunung Tambora (Tomboro) 2851 mdpl, adalah gunung berapi aktif yang berdiri tegak di Pulau Sumbawa, yang juga bagian dari kepulauan Nusa Tenggara. Karena bentukan Tambora  oleh Zona Subduksi dibawahnya, sehingga bisa meningkatkan ketinggian puncaknya mencapai  4.300 mdpl, dan dipastikan sebagai salah satu puncak gunung tertinggi di seluruh nusantara  setelah Puncak Jaya (Carstensz Piramid 4884 m dpl), namun ini terjadi sebelum bulan April  1815 sebagai puncak meletusnya gunung Tambora dengan skala letusan mencapai angka tujuh,  sebuah ukuran dengan diskripsi super kolosal menurut Volcanic Explosivity Index (VEI).
Secara administratif Gunung Tambora terletak diantara dua Kabupaten, yaitu Kabupaten  Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut), dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi  selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara) Provinsi Nusa  Tenggara Barat dengan garis koordinat tepatnya pada 8°15′ LS dan 118° BT.
Jika ingin melakukan pendakian ke Gunung Tambora kami sarankan melalui jalur resmi, yaitu jalur yang kedua melewati Dusun Pancasila yang relatif lebih aman dari jalur lainnya,  untuk menuju ke Dusun Pancasila dapat menggunakan kendaraan dari Cabang Banggo (baca:  cabang Mbanggo) Kabupaten Sanggar dengan jarak tempuh kurang lebih dua jam 15 menit. Para  pendaki sebaiknya menginap di basecamp Bapak Lewah, Kepala Dusun Pancasila, atau  menginap di rumah Bapak M Yusuf (babe), seorang guide pendakian Gunung Tambora yang  sangat berpengalaman mengenai seluk-beluk dan sejarahnya Gunung Tambora.
2. Gunung Krakatau
Krakatau (813 mdpl) adalah sebuah kepulauan vulkanik yang masih aktif hingga saat ini. Sejarah letusan yang pernah terjadi pada tahun 1883 tercatat dalam Guinees Book of  Record sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam sejarah, dan menurut catatan para  peneliti, bersama ledakan Gunung Tambora (1815), Krakatau mencatatkan Nilai Volcanic  Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Berada di Selat Sunda antara Pulau  Jawa dan Pulau Sumatra, Krakatau sudah menjadi milik dunia karena setidaknya terdapat tiga  judul film yang diciptakan oleh para sineas dunia barat untuk menggambarkan apa yang  sebenarnya terjadi pada Gunung berapi itu.
Secara administratif, pulau bergunung api di Selat Sunda ini sebenarnya masuk dalam wilayah Provinsi Lampung. Sekarang, Anak Krakatau telah mencapai ketinggian 200 meter di  atas permukaan laut dengan diameter 2 km. Untuk mengunjunginya Anda bisa berangkat dari  Pelabuhan Tanjung Priuk dengan naik Jet-Foil atau Kapal Phinisi Nusantara. Jalur kedua adalah  dari Pelabuhan Labuan, Banten. Dari sini Anda dapat menyewa kapal motor atau kapal nelayan  yang berkapasitas antara 5 sampai 20 orang
Jalur ketiga bisa ditempuh melalui Pelabuhan Canti, Kalianda-Lampung. Di pelabuhan ini Anda juga dapat menyewa kapal motor atau kapal nelayan yang akan menempuh Krakatau  melalui P. Sebuku dan P. Sebesi. Pada bulan Juli saat Pemda Provinsi Lampung menggelar  Festival Krakatau, Anda bahkan bisa ikut menyeberang ke pulau itu.
3. Gunung Agung Bali
Gunung Agung (3.142 mdpl), adalah gunung tertinggi di Pulau Bali, terletak diantara Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Gunung Agung masih termasuk dalam  jajaran Gunung berapi yang berbentuk stratovolcano, gunung ini memiliki kawah yang lumayan  besar dan dalam yang masih terlihat mengeluarkan asap dan uap air. Letak koordinat persisnya  pada 8° 342′ LS dan 115° 508′ BT
Jalur Pendakian Pura Besakih
Jalur pendakian melalui Pura Besakih adalah jalur umum/normal yang kebanyakan  dipilih oleh para pendaki. Melalui jalur ini anda akan mendapat suguhan pemandangan Gunung  Agung yang mengesankan dari sepanjang perjalanan. Juga akan menyaksikan masyarakat  setempat yang melakukan peribadatan rutin di Pura Besakih, Perjalanan diawali dari Pura Puseh lewat Pura Plawangan ke Pura Telaga mas kemudian  perjalanan dilanjutkan ke Tirta dasar sampai di batas hutan terakhir atau dinamakan Hutan  Pengubengan. Melewati kompleks Pura, jalanan tertata rapi, kemudian kita memasuki kawasan  hutan yang agak landai sekitar 1/2 jam, selebihnya jalur terus menanjak.
4. Gunung Rinjani
 Gunung Rinjani (3.726 mdpl), adalah gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia,
dipuncaknya memiliki kaldera besar dengan tebing-tebing batu tinggi beralaskan danau hijau  Segara Anak (2.010 mdpl) dan disalah satu tepinya dihiasi serakan-serakan onggokan lava  membeku yang mengelilingi gunung yang baru muncul Gunung Baru Jari (2.376 mdpl).
Dikatakan oleh para pendaki sebelumnya bahwa pendakian di Gunung Rinjani adalah the five  star trekking (pendakian bintang lima), isyarat dan ajakan dari mereka yang pernah mencapai  Rinjani, jika sebuah hotel maka ia adalah kelas paling tinggi, bintang lima.  Saat ini ada tiga  jalur resmi pendakian menuju puncak Gunung Rinjani, tentu saja ketiganya memiliki keunikan  dan karakteristik yang berbeda dan menggunakannya akan ditentukan oleh tujuan pendakian  yang akan dilakukan. Ada 3 jalur yang dapat dilalui:
  • Jalur Senaru (Utara)

  • Jalur Sembalun (Timur)

  • Jalur Timbanuh (Selatan)
 

5. Gunung Slamet
Gunung Slamet (3,432 ) adalah gunung tertinggi di Jawa setelah Gunung Semeru di
Jawa Timur, berbentuk kerucut/Strato serta memiliki kawah yang masih aktif dan luas. Letusan  besar terakhir terjadi pada tanggal 13 juli 1988, yang menimbulkan lidah api dan semburan  lava pijar setinggi 300 meter. Gunung Slamet terletak di perbatasan Kabupaten Purbalingga,  Banjarnegara, Banyumas, dan Brebes. Dengan posisi geografis 7°14,30′ LS dan 109°12,30′ BT.
Hutan di kawasan Gunung Slamet, sebagian terdiri dari hutan alam, hutan alam produksi dan  hutan produksi yang dikelola oleh PERHUTANI KPH Pekalongan Barat dan KPH Banyumas Timur.  Pendakian ke Gunung Slamet cukup berbahaya, karena hutannya masih lebat dan jarang didaki,  selama tahun 1975 – 1994 tercatat 17 orang meninggal di gunung ini, 10 orang diantaranya  meninggal karena hujan salju pada bulan Februari 1992. Suhu dipuncak Gunung Slamet  seringkali mencapai 0°C, karenanya kita harus menyiapkan fisik, logistik dan perlengkapan  untuk mendaki gunung ini.
Untuk mencapai puncak Gunung Slamet, kita bisa melalui beberapa jalur: dari Utara via Gambuhan-Jurangmangu, dari Selatan via Baturaden-Gunung Malang, dan Timur via Bobotsari – Bambangan. Jalur yang paling dekat dan lebih aman, adalah dari Bambangan dan Jurangmangu,  yang merupakan jalur yang dianjurkan, sedangkan jalur Baturaden sebaiknya dihindari karena  banyak ditumbuhi rumput-rumput liar dan medannya terjal serta berbahaya.
6. Gunung Ciremai
Gunung Ciremai (3.078 mdpl) merupakan gunung berapi yang masih aktif dan bertipe Strato. Secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon,  Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Kini G. Ceremai termasuk  ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ceremai (TNGC), yang memiliki luas total sekitar  15.000 hektare. Gunung Ciremai memiliki dua kawah utama, Kawah barat dan Kawah Timur,  serta kawah letusan kecil Gua Walet. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53′ 30″ LS dan  108° 24′ 00″ BT.
Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat, dapat didaki dari arah  timur melalui Linggarjati (580 m.dpl), dari arah selatan melalui Palutungan (1.227 m.dpl) dan  dari arah barat melalui Maja (lewat Apui dan lewat Argalingga). Jalur Linggarjati dan jalur  Palutungan adalah jalur yang paling banyak dilalui, dan merupakan jalur yang dianjurkan oleh  pihak PERHUTANI pengelola kawasan hutan di sekitar Gunung Ciremai.Desa Linggarjati  merupakan gerbang utama pendakian ke Gunung Ciremai. Untuk mencapainya, dari terminal  Cirebon atau dari Jakarta, kita naik bus jurusan Kuningan dan turun di Terminal Cilimus atau di  pertigaan menuju pusat Desa Linggarjati, dan meneruskan perjalanan ke Desa Linggarjati  dengan minibus.

7. Gunung Kelud
Gunung Kelud (1113,9 mdpl) merupakan salah satu gunung api yang aktif yang terletak di Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Kediri, dengan ketinggian 1.791 meter dari permukaan  laut. Gunung Kelud termasuk Gunung Api tipe strato dengan danau kawah yang tingginya  1113,9 meter. Gunung ini tercatat pernah meletus sebanyak 24 kali.
8. Gunung Merbabu
Gunung Merbabu (3.142 m dpl), merupakan gunung yang tergolong dalam gunung api tua yang terletak bersebelahan dengan Gunung Merapi yang merupakan salah satu gunung api  aktif. Gunung Merbabu mempunyai banyak puncak-puncak bayangan (bukan puncak asli).
Karena banyaknya puncak ini seringkali para pendaki mengeluh dan jenuh tapi justru hal inilah  yang menjadikan gunung ini menantang untuk di daki.
Puncak Gunung Merbabu terdiri atas dua puncak yaitu Puncak Sarip yang terletak pada ketinggian 3.120 m dpl dan Puncak Kenteng Songo dengan ketinggian 3.142 m dpl. Kedua  puncak ini mempunyai panorama alam yang berbeda.
Untuk menuju ke puncak Gunung Merbabu ada 2 (dua) jalur utama; lewat Selo/Boyolali dan lewat Tekelan/Kopeng. Kedua jalur mempunyai medan perjalanan yang berbeda. Kalau  kita lewat Selo jaraknya lebih jauh tapi mempunyai panorama yang indah. Pohon – pohon pinus  di sepanjang jalan terasa menciptakan kenyamanan selama perjalanan dan bisa memandang  lereng Gunung Merapi lebih dekat.
Perjalanan lewat Tekelan/Kopeng jalurnya lebih landai tetapi karena erosi oleh aliran air hujan menyebabkan rute penjalanan menjadi dua yaitu jalur lama dan jalur baru
9. Gunung Sumbing
Gunung Sumbing merupakan gunung bertipe strato (kerucut), dengan ketinggian 3.371 m dpl.
Gunung ini terletak di kawasan kabupaten Wonosobo, tepatnya di daerah
Temanggung,  Jawa Tengah. Kondisi puncaknya terdiri atas tebing batu cadas yang menjulang tinggi dan  disekitarnya banyak dijumpai kawah – kawah kecil yang mengeluarkan asap belerang. Puncak  Gunung Sumbing terdiri atas dua puncak, Puncak Buntu, dengan ketinggian 3.362 m dpl dan  puncak Kawah, dengan ketinggian 3.372 m dpl.
Untuk mencapai puncak Gunung Sumbing terdapat satu jalur utama yaitu lewat Kampung Butuh, Desa Garung, Wonosobo. Desa Garung merupakan desa yang terletak di kaki  sebelah kanan Gunung Sumbing dan sebelah kiri lereng Gunung Sindoro.
10. Gunung Merapi
Gunung Merapi (2.968 m.dpl) adalah salah satu gunung api yang mempunyai daya rusak yang tinggi dan paling aktif diantara 75 gunung api yang terletak di Indonesia serta merupakan  gunung terganas di dunia. Salah satu ciri khas dari Gunung Merapi adalah pada saat terjadi  letusan menghasilkan awan panas (glowing avalanches), yang oleh penduduk setempat disebut  Wedus Gembel (sejenis kambing Jawa), awan panas ini mempunyai suhu sekitar 1.000 °C yang  turun berbentuk bulatan keriting mirip kambing
Untuk mencapai puncak Gunung Merapi kita bisa melewati dua jalur utama, lewat Kinaharjo/Kaliurang dan lewat Selo/Boyolali. Namun menurut pendaki nekat melalui blognya tidak ada perubahan rute merapi setelah terjadinya letusan Senin (1/11/2010). Ppara pendaki nekat walo sudah ada larangan mengatakan tetap menggunakan jalur lama..walo tanah dan medan rute yang dilalui sangat genting dan labil..perubahan terjadi yang sangat berarti adanya kawah dan jurang curam akibat erupsi,
kawah mati sebelum letusan 2010 masih ada tebing bebatuan yg mengelilingi
namun setelah kawah setelah letusan 2010, tak ada lagi tebing batuan yg mengelilingi kawah mati lama di sisi utara-selatan, jarak barat-timur juga menjauh
10. Gunung Sundoro
Gunung Sundoro – 3.136 m.dpl, setidaknya ada tiga nama yang dikenal baik oleh masyarakat, Sindoro, Sundoro atau Sendoro. Adalah termasuk dalam jajaran gunung berapi  yang mempunyai bentuk kerucut dengan tipe Strato. Dari kejauhan nampak seperti dua saudara  kembar antara Sundoro dan Sumbing, berdiri kokoh di batas Kabupaten Temanggung sebelah  barat dan sebelah timur kota Wonosobo. Diantara keduanya, dipisahkan oleh pelana Kledung  (1.405 m.dpl) yang melintasi jalan raya, menghubungkan Wonosobo dengan kota Magelang.
Gunung Sundoro mempunyai Koordinat/ Geografi pada 7° 18′LS dan 109° 59.5′ BT dan memiliki  areal Kawasan Hutan cukup luas yang di kelola oleh PERHUTANI Wonosobo (772 m.dpl) dan  Temanggung.
Gunung api ini mudah dicapai dari segala jurusan, dari sebelah timur dari Magelang,
dari sebelah barat dari Banjarnegara, dari arah utara  dari Candiroto atau Melayu, sedangkan  dari arah selatan dari Purworejo.  Untuk mendaki gunung Sundoro terdapat dua jalur umum  yang biasanya dipergunakan, yaitu; lewat Desa Kledung dan lewat Desa Sigedang (Tambi).
11. Gunung Semeru
Mahameru, adalah sebutan terkenal dari puncak Gunung Semeru dengan ketinggian ± 3.676 meter diatas permukaan laut (mdpl), menempatkan diri sebagai gunung tertinggi di Pulau  Jawa. Gunung Semeru termasuk salah satu dari gunung berapi yang masih aktif di Jawa Timur,  terletak diantara wilayah Administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang dengan posisi geografis  antara 7°51’ – 8°11’ Lintang Selatan, 112°47’ – 113°10’ Bujur Timur.
Pada bulan-bulan libur sekolah, pendakian menuju Gunung Semeru bakal rame. Ranu Kumbolo  yang menjadi favorit para pendaki dan sekaligus sebagai camp sementara untuk istirahat  sebelum menuju puncak akan berubah menjadi perkampungan baru para pendaki dari berbagai  penjuru. Untuk Menuju daerah awal pedakian kita bisa mengunakan dua jalur yaitu dari arah  Senduro – Lumajang dan Tumpang-Malang.
Pada bulan maret hinga april 2011 terjadi letusan dan aktivitas vulkanik semeru. Hingga kini pendakian menuju semeru pun ditutup.
12. Gunung Gede dan Gunung Pangrango
Gunung Gede (2.958 m.dpl) dan Gunung Pangrango (3.019 m.dpl) adalah icon utama bagi masyarakat Jawa Barat, asal bicara tentang aktifitas kegiatan camping dan naik gunung,  sering kali yang ditawarkan adalah pendakian di Gunung Gede dan Gunung Pangrango, yang  dapat di lalui dari Desa Gunung Putri dan Cibodas. Puncak-puncaknya akan nampak jelas  terlihat dari Cibodas, Cianjur dan Sukabumi, Gunung Pangrango yang mempunyai jenis puncak  runcing, dan Gunung Gede puncaknya berbentuk kubah. Kedua gunung ini termasuk dalam  wilayah pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP), yang berdiri pada  tanggal 6 Maret 1980 untuk mengelola areal seluas 15.196 ha.
Gunung Pangrango (3.019 m.dpl) merupakan gunung api yang sudah tidak aktif lagi,  sementara Gunung Gede (2.958 m.dpl) tergolong Gunung Api dengan jenis Stratovolcano.
Berikut data Gunung Gede menurut Smithsonian Institute dengan Global Volcano Programnya:
Ada 3 jalur yang digunakan untuk menempuh gunung ini:
 Jalur Cibodas
 Jalur Gunung Putri (Cianjur)
 Jalur Selabintana (Sukabumi)
13. Gunung Argopuro
Gunung Argopuro atau Argopura (3.088 m.dpl), termasuk jenis gunung yang mempunyai banyak puncak, terdapat ± 14 puncak di jajaran Pegunungan Iyang. Terletak di  Kabupaten Probolinggo Jawa Timur dan berada dalam pengawasan Sub BKSDA (Balai Konservasi  Sumber Daya Alam) wilayah Jember. Gunung Argopuro merupakan gunung yang mempunyai  jalur pendakian terpanjang diantara jalur gunung-gunung di Pulau Jawa lainnya. Memiliki  peninggalan bersejarah dari Zaman Prasejarah hingga masa pendudukan Jepang.
Jalur Pendakian
Jalur pendakian menuju Gunung Argopuro terdapat 2 jalur utama yang umum dipakai oleh para pendaki, yang pertama adalah lewat Baderan, Besuki atau lewat Desa Bremi,  Probolinggo. Tapi umumnya para pendaki menggunakan Jalur Bremi, Probolinggo menuju  Baderan Situbondo. Beberapa alasan adalah jalur tersebut lebih dekat menuju puncak, juga  jika sekalian ingin melakukan pendakian Rally di sejumlah gunung-gunung yang berdekatan,  biasa disebut Gorajen (Argopuro, Raung dan Ijen).
Gunung Penanggungan 1.653 m dpl, terletak di perbatasan Pasuruan dan Mojokerto.
Jika anda melakukan perjalanan darat dari Surabaya menuju Malang, selepas keluar dari Jalan  Tol Gempol, akan terlihat sosok Gunung Penanggungan dengan kondisi puncaknya yang tandus,  terlihat seperti sosok Mahameru (puncak Gunung Semeru), sebagian menandainya sebagai  miniatur Mahameru.Untuk mencapai puncak Gunung Penanggungan terdapat 4 (empat) arah  pendakian yaitu via Trawas, Jolotundo, Ngoro dan via Pandaan. Bagi pendaki yang memilih  start dari Desa Jolotundo dan Ngoro, di sepanjang jalan akan melewati candi-candi peninggalan  purbakala. Yang memilih start dari Desa Trawas dan Pandaan hampir tidak menjumpai  peninggalan purbakala.
14. Gunung Raung
Gunung Raung 3.332 (m dpl), berada dalam jajaran Pegunungan Ijen dan termasuk sebagai gunung berapi yang masih aktif dengan tipe stratovolcano, mempunyai kaldera di  puncaknya yang berbentuk lingkaran (circular), Kaldera Gunung Raung mempunya dimensi  luasan sekitar 750 m x 2,250 m dan masih selalu mengeluarkan asap dan semburan api.
Tercatat sejak tahun 1593 telah mengalami letusan sebanyak 57 kali.
Jalur Pendakian
Untuk mencapai puncak Gunung Raung, Jalur dari arah Bondowoso-Sumber Wringin adalah jalur paling sering digunakan sebagai jalur pendakian, sedangkan jalur dari arah  Banyuwangi-Bajulmati yang jarang dilalui karena medan pendakian yang cenderung menanjak  dan curam. Dari arah Bondowoso kita menuju ke Wonosari dengan minibus lalu kita teruskan  menuju ke desa Sukosari . Dari desa Sukasari kita teruskan ke desa Sumber Wringin dengan naik  kendaraan angkutan pedesaan. Perjalanan membutuhkan waktu 1,5 jam.
15. Gunung Lawu
Gunung Lawu (3.265 m) berdiri kokoh diperbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, banyak menyimpan sejuta misteri dan legenda. Dalam legenda Gunung Lawu dipercayai  sebagai tempat bertapanya Raden Brawijaya atau dikenal dengan Sunan Lawu setelah  mengundurkan diri dari kerajaan Majapahit, dan beliau dipercaya sebagai penguasa seluruh  makhluk yang ada di Gunung Lawu.
Desa Cemoro Sewu maupun dukuh Cemoro kandang yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer  merupakan gerbang pendakian ke puncak Lawu atau lebih dikenal dengan nama Argo Dumilah,  letaknya berada tidak jauh dari kota dan dilintasi oleh jalan raya tertinggi di pulau Jawa yaitu  sekitar 1.878 meter dari permukaan air laut. Karena letaknya yang mudah dijangkau, Gunung  Lawu ini banyak dikunjungi pendaki pada Minggu dan hari-hari libur